Dampak Motivasi Ekstrinsik Terhadap Motivasi Intrinsic

Dampak Motivasi Ekstrinsik Terhadap Motivasi Intrinsic – Motivasi dapat didefinisikan secara sederhana sebagai hal-hal yang mendorong kita untuk mengambil tindakan tertentu atau berperilaku dengan cara tertentu. Motivasi adalah alasan atau dorongan yang menggerakkan seseorang menuju tujuan yang diinginkan.
Alasan ini dapat dikategorikan menjadi dua jenis, yaitu sesuatu yang berasal dari dalam diri kita (motivasi intrinsik/internal) atau sesuatu yang berasal dari luar diri kita (motivasi ekstrinsik/eksternal).
Motivasi intrinsik dalam melakukan suatu tugas terjadi ketika tugas itu sendiri dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan atau memuaskan, sehingga tidak diperlukan hadiah atau imbalan eksternal agar tugas tersebut dikerjakan. Contohnya adalah kecintaan terhadap suatu aktivitas, kepuasan pribadi, rasa pencapaian, atau tujuan relaksasi.
Motivasi ekstrinsik dalam melakukan suatu tugas terjadi ketika tugas dilakukan karena adanya imbalan eksternal. Contohnya termasuk pujian, pengakuan, uang, stiker, nilai akademik, atau hadiah materi lainnya.
Motivasi dapat dilihat sebagai suatu spektrum, dari yang sepenuhnya didorong oleh faktor eksternal hingga yang semakin bersumber dari dalam diri sendiri. Setiap orang pada awalnya cenderung lebih bergantung pada motivasi eksternal. Misalnya, banyak anak kecil yang diberi iming-iming permen atau stiker agar mereka melakukan sesuatu, atau melakukan sesuatu demi mendapatkan pujian dari orang dewasa. Namun, seiring bertambahnya usia dan terpenuhinya kebutuhan material, kita cenderung menjadi lebih terdorong oleh motivasi internal.
Meskipun motivasi intrinsik umumnya dianggap lebih baik karena berada dalam kendali individu, motivasi ekstrinsik tetap berguna untuk mendorong seseorang memulai suatu tugas ketika ia belum merasa termotivasi secara intrinsik.
Namun, penggunaan motivasi eksternal secara berlebihan dapat memberikan dampak negatif. Penelitian telah menunjukkan bahwa pemberian hadiah eksternal pada suatu tugas yang awalnya sudah memiliki daya tarik intrinsik dapat mengurangi motivasi asli seseorang terhadap tugas tersebut.
Salah satu studi terkenal adalah makalah tahun 1973 berjudul “Undermining children’s intrinsic interest with extrinsic rewards: A test of the overjustification hypothesis” oleh M. Lepper, D. Green, & R. Nisbett. Dalam penelitian ini, para peneliti memperkenalkan aktivitas menggambar yang menyenangkan kepada anak-anak saat waktu bermain bebas. Anak-anak yang tampak menikmati aktivitas menggambar secara alami kemudian dikelompokkan ke dalam tiga kondisi:
1. Kondisi 1: Beberapa anak diperlihatkan sertifikat “Pemain Hebat” dan ditanya apakah mereka ingin menggambar untuk mendapatkan sertifikat tersebut.
2. Kondisi 2: Beberapa anak diberi kesempatan menggambar tanpa janji hadiah, tetapi kemudian mereka diberi sertifikat “Pemain Hebat” secara tak terduga.
3. Kondisi 3: Beberapa anak menggambar tanpa mengharapkan atau menerima hadiah apa pun.
Dua minggu kemudian, anak-anak ini kembali diberi kesempatan untuk menggambar. Hasilnya mengejutkan—anak-anak yang menggambar demi mendapatkan hadiah menunjukkan minat yang jauh lebih rendah terhadap aktivitas menggambar, bahkan ketika hadiah tidak lagi diberikan, mereka berhenti menggambar. Sementara itu, anak-anak dalam dua kondisi lainnya tidak menunjukkan perubahan signifikan dalam minat mereka terhadap menggambar.
Hasil ini menunjukkan bahwa hadiah eksternal berupa sertifikat “Pemain Hebat” justru menghancurkan motivasi intrinsik anak-anak untuk menggambar.
Penelitian lain oleh E.L. Deci (1975) dalam makalahnya yang berjudul *”Intrinsic motivation”* menunjukkan bahwa ketika seseorang diberikan hadiah atas sesuatu yang sebelumnya sudah memuaskan secara intrinsik, motivasinya justru menurun. Temuan ini menunjukkan bahwa jika seseorang sudah menikmati suatu aktivitas, pemberian hadiah untuk aktivitas tersebut dapat membuatnya kehilangan minat untuk melanjutkannya.
Dari dua penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa hadiah eksternal berisiko merusak motivasi intrinsik. Oleh karena itu, ada bahaya yang disebut dengan “overjustification”, yaitu ketika kita terlalu bersemangat memberikan hadiah untuk mendorong kinerja seseorang, sehingga malah merusak motivasi asli mereka.
Pelajaran yang dapat kita ambil dalam memotivasi anak-anak, siswa, atau bawahan:
1. Kembangkan motivasi intrinsik terhadap suatu tugas, misalnya dengan menyediakan lingkungan yang aman bagi mereka untuk mengeksplorasi minat mereka tanpa gangguan yang berlebihan.
2. Dorong motivasi intrinsik dengan memberikan kesempatan untuk berbagi hasil kerja mereka serta kepuasan pribadi yang mereka rasakan dari tugas tersebut.
3. Gunakan hadiah eksternal dengan bijaksana, tanpa menciptakan harapan bahwa setiap usaha akan selalu diberi imbalan.